Thursday, June 28, 2007

PERBAIKAN SISTEM BUDIDAYA PADI UNTUK MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN PETANI

( Yogyakarta )Padi merupakan tanaman penghasil bahan makanan pokok bagi sebagian besar penduduk Indonesia sehingga mempunyai peran yang strategis. Padi sebenarnya dapat ditanam di dua jenis lahan utama yaitu sawah dan ladang (kering), namun sebagian besar petani menanam padi dengan menggenangi lahannya dalam bentuk padi sawah dan dilakukan dengan pindah tanam setelah benih dibibitkan terlebih dahulu. Kondisi tanah yang selalu tergenang menyebabkan lingkungan tanah menjadi kurang kondusif bagi tanaman padi, sedangkan penanaman padi dengan pindah tanam menyebabkan terjadinya kerusakan akar. Hal ini menyebabkan budidaya padi menjadi tidak efisien dalam penggunaan sumber daya dan hasil padi menjadi rendah dengan rerata nasional hanya mencapai 4–5 ton/ha saja. Oleh karenanya untuk meningkatkan kesejahteraan petani, Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), telah mengembangkan sistem budidaya padi dengan menggabungkan beberapa teknologi yang lebih efisien dalam penggunaan sumber daya. Teknologi budidaya padi yang telah dikembangkan, antara lain penyiapan benih, pembibitan, irigasi dan pemupukan yang dikombinasikan menjadi satu paket teknologi budidaya padi. Demikian disampaikan oleh Ir. Agus Nugroho Setiawan, MP, Ketua Jurusan Agronomi UMY ketika menerima kunjungan petani dari Karanganyar dan Magelang Jawa Tengah pada Rabu (27/06), di Kampus Terpadu UMY.
Lebih lanjut Agus Nugroho mengatakan, sebagai bentuk tindak lanjut dari kerjasama UMY dengan PT Prakasita Sekar Mataram, dalam penerapan teknologi ini digunakan pupuk organik cair produksi dari PT PSM. Penyiapan benih yang dilakukan dengan uji kualitas menggunakan larutan garam ternyata menghasilkan benih dengan vigor tinggi. Perendaman benih terpilih dengan larutan pupuk organik cair dapat mempercepat dan meningkatkan kualitas bibit yang dihasilkan. Bibit yang dihasilkan, ditanam pada umur muda (7–10 hari) dengan sistem tanam tunggal. Dalam penanamannya, digunakan sistem tanam tunggal dengan 1 bibit setiap lubang tanam sehingga lebih efisien dalam penggunaan benih. Berbeda dengan budidaya padi secara konvensional yang banyak membutuhkan air, dalam teknologi ini irigasi tidak banyak menggunakan air, tanah dikondisikan dalam keadaan macak–macak saja sehingga lebih hemat air. Penggunaan pupuk organik cair yang diberikan melalui daun dan dilakukan secara periodik juga lebih efektif. Implementasi teknologi budidaya padi dengan teknologi tersebut menghasilkan jumlah anakan, malai dan gabah yang lebih banyak, serta bobot gabah dan hasil yang lebih tinggi.
Sementara itu, Dekan Fakultas Pertanian UMY Ir. Lilik Utari, MS mengatakan pengembangan teknologi budidaya padi yang dikembangkan oleh Fakultas Pertanian UMY, telah diimplementasikan di beberapa daerah antara lain di Temanggung, Karawang, Banyumas dan beberapa daerah di Jawa Timur. Lebih lanjut Lilik Utari mengatakan Fakultas Pertanian UMY mempunyai komitmen untuk mengembangkan teknologi budidaya padi karena padi merupakan tanaman penghasil bahan pangan pokok penduduk Indonesia dan sebagian besar petani Indonesia merupakan petani padi. menjelaskan keberhasilan penerapan teknologi budidaya padi di beberapa daerah telah menimbulkan rasa ingin tahu yang lebih besar pada petani lainnya sehingga banyak petani yang datang ke kampus UMY. Keberhasilan implementasi tersebut juga mendorong Dinas Pertanian dan Kehutanan Kabupaten Bantul, DIY untuk menjalin kerjasama dengan Fakultas Pertanian UMY. Pada hari Selasa, 26 Juni 2007 bertempat di Kantor BIPP Bantul dilakukan koordinasi dan sekaligus diminta kesediaan Fakultas Pertanian UMY untuk berperan aktif sebagai nara sumber dan fasilitator dalam implementasi WISMP Deptan Tahun 2007 di Kabupaten Bantul. “Hampir tiap hari kami menerima kunjungan atau kontak telephon dari petani di berbagai daerah, yang menanyakan tentang budidaya padi yang kami kembangkan dan penggunaan pupuk organik cair”, tambah Lilik.

No comments: