Monday, September 3, 2007

MENJELANG PUASA KEKERINGAN DI YOGYAKARTA MAKIN MELUAS

YOGYAKARTA- Menjelang bulan puasa, kekeringan di provinsi DI Yogyakarta semakin meluas. Di Kabupaten Gunungkidul, kekeringan telah melanda pada 650 dusun dari 1.430 dusun yang ada. Sementara di Kabupaten Sleman, sejumlah desa di Kecamatan Prambanan dilanda kekruangan air yang membuat masyarakat harus membeli air dari penjual swasta.

Untuk meringankan beban masyarakat yang bakal menghadapi ibadah puasa, masing-masing pemerintah daerah berusaha mengantisipasi agar masyarakat yang dilanda kekeringan tidak semakin berat. Di Kabupaten Gunungkidul, misalnya, mereka menyiapkan petugas untuk dropping air hingga malam hari selepas salat taraweh.

"Selama sebulan ini, kami melakukan dropping air maksimal hingga pukul 18.00. Tapi pada bulan puasa nanti, dropping air akan kami lakukan juga pada malam hari terutama setelah salat taraweh. Sehingga kami butuh petugas yang bekerja secara bergantian," kata Camat Saptosari Kabupaten Gunungkidul, Mujiyono, Selasa (4/9).

Dijelaskan Mujiyono, kecamatan Saptosari telah memperoleh sebuah truk tangki kapasitas 4 ribu liter untuk dropping air. Namun karena kondisi medan yang berbukit dan berbatu, kata dia, dalam sehari pihaknya hanya bisa melakukan dropping air sebanyak tujuh kali. Sementara jumlah dusun di Kecamatan Saptosari mencapai sebanyak 60 buah.

"Seluruh telaga di Kecamatan Saptosari sekarang ini sudah kering sehingga masyarakat praktis hanya mengandalkan pasokan air dari pemerintah. Warga yang mempunyai uang atau kambing juga sudah dijual untuk membeli air dari pedagang swasta," kata Mujiyono.


Kepala Humas Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Supriyanto mengatakan, di Gunungkidul terdapat 1.430 dusun dan 650 dusun di antaranya dilanda kekeringan.
Jumlah itu, kata dia, dipastikan akan terus bertambah karena puncak kekeringan diperkirakan akan terjadi hingga akhir Oktober nanti.

Kekeringan tahun ini, kata dia, dirasakan jauh lebih berat. Gempa 27 Mei 2006 lalu, kata dia, menyebabkan banyak telaga menjadi kering tidak mengeluarkan air. Tujuh kecamatan di kawasan utara Gunungkidul yang biasanya kecukupan air meski pada musim kemarau, kata Supriyanto, saat ini juga dilanda kekeringan.


"Meski tidak merata di seluruh desa, tapi 18 kecamatan yang ada di Gunungkidul semuanya ada yang kekeringan. Anggaran untuk dropping air ini telah disiapkan sebesar Rp 533 juta. Tapi kemungkinan kurang sehingga akan ada penambahan dalam pembahasan APBD perubahan nanti," kata Supriyanto.

Sementara itu pemerintah Kabupaten Sleman juga menyiapkan sebanyak 400 tangki air untuk dropping bagi warga di Kecamatan Prambanan menghadapi bulan puasa nanti. Sejak awal Agustus lalu, Pemkab kekeringan telkah melakukan dropping sebanyak 240 tangki.

Menurut Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Sutrisno, pasokan air tersebut diberikan kepada warga di Kecamatan Prambanan terutama di Desa Wukirharjo, Sumberharjo, Gayamharjo dan Sambirejo. Kondisi di empat desa itu, kata dia, memang berada di perbukitan sehingga dipastikan kekurangan air jika musim kemarau.


"Selain mengirim air, untuk mengatasi kesulitan air di kecamatan Prambanan juga diupayakan dengan optimalisasi pompa air yang berada di Majesem, Bokoharjo dan di Bleber, sumberharjo," katanya.

Sementara itu Ketua DPRD Sleman, Rendradi Suprihandoko mengatakan, mestinya pemkab dapat mengatasi masalah kekeringan bukan hanya melalui cara- cara yang hanya bersifat sementara seperti pengiriman air karena kondisi geografis yang memungkinkan masalah itu terus terjadi.

"Kondisi geografis keempat desa di Prambanan itu hampir seperti Gunung Kidul sehingga harus menjadi perhatian pemkab dan DPRD untuk membuat kebijakan yang dapat bermanfaat dalam jangka panjang," katanya.

harga gas elpiji untuk kebutuhan industri dengan ukuran 50 kilogram di Kota Yogyakarta mulai hari ini dari semulan Rp4.250 per kilo menjadi Rp6.200 per kilo. ( Santospul)

No comments: